write to express not to impress
Experience

Write to Express, Not to Impress

Tahun 2013, saya pernah coba-coba buat blog. Waktu itu, saya baru masuk kuliah dan masih bingung apa yang harus saya tulis dalam blog itu. Keren aja gitu rasanya dulu punya blog. Tapi setelah saya menjelajah berbagai blog dan membaca isi blog-blog yang ada di internet, saya merasa tak punya bahan untuk diceritakan dalam blog.

Blog-blog lain rasanya begitu keren. Bercerita tentang perjalanan, pengalaman dan hal-hal seru yang si empunya blog lakukan. Lah saya? Mahasiswa baru dari kampung yang hampir bisa dibilang tidak punya cerita keren apa pun. Waktu itu, saya masih sangat khawatir dengan pendapat orang lain. Takut tulisan-tulisan saya jelek, takut pengalamanku dianggap cupu dan banyak takut-takut yang lain.

Namanya juga remaja. Pengen mencoba berbagai hal. Tapi juga khawatir tentang banyak hal. Waktu itu, mungkin yang ada di pikiranku bahwa tujuan menulis adalah untuk membuat orang lain terkesan.

Akhirnya, setelah bercerita tentang perjuanganku masuk ke Sekolah Kedinasan, blog itu pun tertinggal begitu saja. Hanya saya isi ketika ada tugas mata kuliah Pengantar Teknologi Informasi yang mengharuskan kami mengepost sesuatu di blog.

Waktu berlalu. Dan blog itu hanya sesekali saya kunjungi. Selama itu, saya tetap menulis. Karena saya perlu, saya butuh menulis. Saya menulis di jurnal atau bisa dibilang diary. Dalam diary itu, saya bebas menuliskan apa pun yang saya ingin. Segala perasaan, pengalaman-pengalaman lucu dan hal-hal yang mungkin memalukan. Pokoknya, diary itu seperti curahan jiwaku. Saya tak takut dihakimi saat menulisnya.

Tentu saja, siapa yang mau menghakimi ketika tidak ada yang membacanya?

Tahun 2017, saya dipertemukan dengan buku Anak Kota Hujan karya Mutia Prawitasari. Buku itu saya dapat di suatu event pembaca yang waktu itu mengadakan acara tukar buku. Saya lupa nama acaranya. Jadi aturannya, kita membungkus buku kita dengan sampul cokelat, memberi tiga kata untuk mendeskripsikannya dan menaruhnya di meja tempat penukaran. Selanjutnya, kita tinggal pilih satu buku yang kita inginkan dari meja tersebut.

Saya memilih Anak Kota Hujan tanpa tahu isinya. Yang jelas, bungkusnya terlihat tebal. Jadi, kupilih saja secara acak. Dan kemudian Anak Kota Hujan menjadi salah satu novel kesukaanku.

Penulisnya, Mutia Prawitasari pernah berkata bahwa kita menulis itu seharusnya untuk mengekspresikan apa yang ada di pikiran kita dan bukan untuk membuat orang lain terkesan.

Dalam istilah kerennya, ‘Write to Express, Not to Impress.’

Dalam bukunya, beliau juga pernah bilang gini.

Jangan menulis agar tak tenggelam dalam sejarah. Menulislah agar tak tenggelam dalam kehidupanmu.

Mutia Prawitasari

Sejak saat itu, saya memutuskan untuk kembali menulis. Saya mencoba lagi untuk membuat blog. Kali ini menggunakan platform yang berbeda (wordpress). Sebenarnya waktu itu, saya lumayan sering menulis. Melatih diri sendiri agar bisa menulis untuk berekspresi dan bukan membuat orang terkesan. Sulit awalnya. Karena saya tidak terbiasa menjadi vulnerable di depan orang, apalagi blog bisa dibaca banyak orang.

Tapi lama kelamaan, akhirnya bisa juga. Blog saya waktu itu cuma memfollow seorang teman, penulis kesukaan saya Azhar Nurun Ala, dan beberapa blogger luar negeri. Saya tidak mengikuti komunitas blogger apa pun karena memang masih belum terbiasa membiarkan pikiranku dibaca oleh orang lain.

Di saat yang sama, saya mulai aktif lagi di Wattpad. Awal masuk Wattpad saya membuat cerita yang kiranya akan disukai banyak orang. Saya melakukan promosi ke akun-akun lain dan mencoba untuk mendapatkan pembaca sebanyak mungkin. Dan saya mendapatkan pembaca, tapi tidak sebanyak yang saya harapkan.

Setelah menguasai prinsip write to express, not to impress, saya coba menulis lagi di Wattpad. Kali ini tulisannya bersifat curhat tapi juga memberi motivasi. Kebetulan waktu itu saya sedang dalam masa skripsi. Jadi sekalian menguatkan diri sendiri. Setelah menulis sekitar tujuh bagian, saya menyadari bahwa tanpa saya promosikan, orang-orang datang dengan sendirinya ke tulisanku.

Saya jadi sadar kemudian bahwa orang-orang lebih tertarik untuk membaca pemikiran yang tulus dan jujur dari seseorang. Dan orang lebih tertarik lagi ketika mereka bisa mendapat manfaat dari tulisan itu.

Tulisan di Wattpad itu saya buat dengan judul Self Reminder. Dan sekarang sudah bisa jadi reminder juga untuk orang lain. Rasanya menyenangkan.

Itulah sebabnya saya mulai lagi dengan blog. Kali ini, saya ingin sharing dengan lebih banyak orang. Makanya saya mulai ikut komunitas blog, biar kemampuan menulisnya juga makin mumpuni.

Menulis blog sekarang tidak lagi terasa sebagai beban karena harus keren. Dari berbagai pengalaman itu saya belajar, bahwa tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu mengekspresikan pikiran si penulis. Dan tulisan yang lebih baik lagi adalah tulisan yang mampu menggerakkan pembacanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *