work from home
Experience

Work From Home vs Work From Office

Which one do you prefer, work from home or work from office?

Waktu pertama kali tahu tentang kebijakan Work From Home (WFH) selama masa pandemi Covid-19, sebenarnya ada sebagian dari diri yang merasa cukup khawatir. Soalnya, pada waktu itu memang lagi padat-padatnya kegiatan dan ada satu kegiatan besar yang sudah saya siapkan sebelumnya pada akhirnya harus dibatalkan. Tidak berpengaruh besar memang terhadap efektivitas pekerjaan, tapi ternyata berpengaruh cukup besar terhadap siklus kerjaku sendiri.

Sebagai pegawai kantoran, saya sudah terbiasa bangun pagi untuk berangkat ke kantor dan pulang jam empat sore. Such a typical 8-4 job right here. Tapi itu sudah menjadi kebiasaan dan saya bisa dibilang cukup produktif dalam rentang waktu bekerja itu. Ketika WFH mulai diberlakukan, saya sangat merasakan perubahan dalam produktivitasku.

Karena tidak ada perbedaan yang jelas antara waktu kerja dan waktu istirahat di rumah, alhasil saya justru menghabiskan lebih banyak waktu scrolling media sosial ataupun nonton Youtube. Dan yang paling terasa jelas adalah, lebih sulit untuk saya untuk mulai mengerjakan tugas-tugas kantor. Terlalu banyak godaannya.

Di sisi lain, saya merasa lega juga karena akhirnya bisa punya cukup waktu untuk beristirahat. Dengan kesibukan yang padat sampai dengan akhir tahun lalu, saya tahu saya sudah bekerja terlalu keras. Hanya saja seperti yang telah saya katakan sebelumnya, istirahat yang berlebihan membuat kita menjadi tidak produktif.

Dalam hati, saya sebenarnya ingin sekali menjadikan waktu WFH ini sebagai latihan. Latihan mengatur waktu sendiri, latihan mengatur disiplin diri. Karena, saya berkeinginan suatu saat nanti ingin menjadi seorang enterpreneur. Senang aja gitu kayanya bisa mengatur waktu kerjanya sendiri, tidak harus terikat pada peraturan saklek soal jam kerja.

Tapi ternyata tidak semudah itu. Mengatur waktu sendiri, sungguh tidak semudah itu. Itulah sebabnya menjadi seorang enterpreneur sebenarnya tidak semenyenangkan yang terlihat. Menyenangkan memang, tapi saya yakin para enterpreneur ini benar-benar bekerja lebih keras daripada orang-orang yang bekerja sebagai karyawan.

Untuk saat ini, saya rasanya masih perlu banyak latihan. Saya masih suka tidak menepati rencana yang sudah kubuat sendiri. To do list yang sudah tertata rapi di jurnal, kadang tidak bisa terceklis semuanya. Bisa dibilang saya ini masih sangat moody soal pekerjaan. Bekerja saat lagi mood saja.

Katanya, yang membedakan amatir dan profesional adalah amatir bekerja berdasarkan mood sedangkan profesional bekerja sesuai dengan perencanaan tidak peduli saat itu ia sedang mood atau tidak. Jadi ya, bisa ditebaklah saya ini masuk golongan yang mana.

Jadi, itulah yang saya pelajari dari seluruh pengalaman WFH ini. Kalau temen-teman, dapat pembelajaran apa nih dari situasi kerja saat pandemi ini? Lebih suka kerja dari rumah atau dari kantor?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *